Breaking News

SINAR TERANG MONSINYUR SUNARKA - MENGENAL KISAH HIDUP BELIAU


SINAR TERANG MONSINYUR SUNARKA
(tulisan Rm. Ucup Van Kiyer pada Majalah Mediator Maret 2018)

Mgr. Julianus Kema Sunarka
dok.inet


Kira-kira tahun 1962, Kema muda bersama adik dan beberapa teman ramai-ramai mengganti nama. Kema memilih nama Sunarka. Adiknya, Ngadimun, berganti menjadi Suryanto. Sementara Paimin, temannya, menjadi Suryadi. Nama Surya dan Sunar dipilih dengan maksud sama, yaitu: agar menjadi terang bagi banyak orang.

Mgr. Julianus Kema Sunarka terlahir sebagai anak pertama dari pasangan Zakarias Wagiyo Sutodikromo dan Elisabeth Ngadiyah Sutodikromo. Sulung dari lima bersaudara ini kemudian dinamai Kema karena lahir pada hari Kamis (Kemis). Petrus Ngadimun Suryanto, adiknya, menyatakan bahwa sebenarnya tidak diketahui pasti tanggal lahir kakaknya dan ia sendiri. Waktu itu memang belum ada kebiasaan umum untuk mencatatkan tanggal lahir resmi. Konon, tanggal 25 Desember 1941 dipilih Kema muda kemudian hari dengan alasan praktis agar gampang diingat. “Agar mudah diingat saja. Saya memilih tanggal 1 Januari 1943 juga dengan alasan itu,” jelasnya.

Zakarias Wagiyo Sutodikromo adalah seorang petani sederhana di Desa Japanan, Minggir, Sleman. Setelah musim tanam selesai, ia berdagang ke luar daerah seperti Magelang, Ambarawa, Semarang, Temanggung, bahkan sampai Wonosobo. Barang dagangan yang dijualnya adalah barang-barang perabot dari anyaman bambu seperti besek, tampah, dan tenggok. Aktivitas berdagang ini biasanya dilakukan sekitar tiga bulan. Sepuluh hari sekali ia pulang untuk berkumpul bersama keluarga sembari kulakan.

“Bapak biasanya jalan kaki dari rumah sampai Salam (Magelang) memanggul barang dagangannya. Lalu naik bus menuju Ambarawa, Semarang, atau daerah lainnya untuk jualan,” kenang Lucia Budi Santoso, adik ketiga Mgr. Julianus Sunarka. Menjelang musim panen, aktivitas berdagang berhenti dan Sutodikromo kembali mengurus sawah. Untuk menunjang kehidupan keluarga, Elisabeth Ngadiyah Sutodikromo juga membantu bekerja. Ia menenun stagen, mengenam tikar, dan bahkan jualan dhawet. Dari kerja keras pasangan suami-istri inilah, kelima anak mereka dapat menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.

Sebagai anak petani, Kema kecil sangat akrab dengan sawah. “Kami sering macul bareng, angon wedhus, mencari rumput, dan membawa pupuk ke sawah,” kenang Suryanto yang hanya selisih dua tahun dengan kakaknya itu. “Kalau pagi, kami biasanya mandi di belik tengah sawah bersama Paiman (Rm. Paiman, MSC). Kalau malam, kami sering cari belut dan nyuluh bareng di sawah. Pakai senthir. Kalau ada wayang, biasanya kami juga nonton ramai-ramai,” tambahnya mengenang masa kecil bersama sang kakak. Menurut pengakuannya, sewaktu kecil kakaknya memang memiliki pergaulan yang baik dengan siapa saja. Ia ramah, suka menyapa, dan grapyak sehingga punya banyak teman.

Keluarga Sutodikromo awalnya bukanlah keluarga katolik. Adalah St. Ngadikin Sudarmadi, kakak sepupu Mgr. Sunarka yang pertama kali memeluk iman katolik dari keluarga besar Todikromo. Ia memeluk iman katolik setelah belajar di Sekolah Guru Boro. Setelah Sudarmadi menjadi katolik, rumahnya lalu dijadikan tempat pelajaran iman katolik di desanya. “Biasanya katekis, bruder, dan romo dari Klepu giliran datang dan mengajar,” kata Suryanto. Kema kecil dibaptis di Gereja St. Petrus dan Paulus Klepu pada tahun 1953 dengan nama baptis Julianus. Setahun kemudian gantian adiknya yang dibaptis. Baru kemudian disusul kedua orangtua dan adik-adiknya yang lain. Seingat Suryanto, ia dan kakaknya dibaptis saat masih sekolah di SD Kanisius Klepu.

Selepas menamatkan sekolahnya di SD Kanisius Klepu, Kema remaja meninggalkan Japanan untuk sekolah di SGB dan SGA Ambarawa. Sekolah ini berasrama. Setiap tiga bulan sekali ada kesempatan untuk pulang ke rumah. Waktu pulang ke rumah ini biasanya dimanfaatkan Kema untuk ziarah bersama teman-teman desa ke Goa Maria Sendangsono. “Saat Mas Kema liburan, kami biasanya ziarah ke Sendangsono bersama teman-teman kampung. Jalan kaki. Waktu itu belum ada jembatan, sehingga harus pakai gethek untuk menyeberangi Kali Progo. Ibu biasanya menyusul di belakang,” kisah Suryanto.

Selepas lulus Sekolah Guru, Kema muda menjadi guru di sebuah Sekolah Dasar di Banyubiru, Ambarawa. Ia dipercayai seratus lebih anak kelas 1 dan 2. Menurut Suryanto, pada masa inilah minat belajar bahasa asing kakaknya tampak. Kema muda mulai belajar Bahasa Latin dan Belanda di samping Bahasa Inggris yang sudah dikuasainya. Suryanto sering dikirimi beberapa artikel dan buku berbahasa Inggris oleh kakaknya.

Tahun 1962, Kema muda masuk Seminari Menengah St. Petrus Kanisius Mertoyudan, Magelang. Setahun kemudian ia masuk Novisiat Serikat Yesus di Girisonta, Ungaran. “Waktu itu, seingat saya, Mas Kema punya dua pilihan, masuk Jesuit atau menjadi trapist di Rawaseneng. Setelah datang langsung ke Girisonta dan Rawaseneng, ia lalu memilih masuk Jesuit,” kata Suryanto.

Seingat Suryanto, sebelum masuk seminari kakaknya tidak pernah membicarakan rencana menjadi pastor. Hanya, waktu itu mereka dan banyak anak muda katolik mengagumi sosok Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. Kalau Mgr. Soegija datang ke Klepu, umat menyambut dengan meriah. “Kedatangan Romo Kanjeng waktu itu juga diiringi banyak kendaraan. Ramai sekali,” kenang Suryanto yang bersama kakaknya waktu kecil juga pernah menjadi pelayan altar atau misdinar.

Setelah menjalani pendidikan calon imam, kontak Fr. Sunarka dengan keluarga memang tidak begitu intens. Apalagi, kemudian ia menjalani studi filsafat di Nijmegen, Belanda. Ia kemudian ditahbiskan di Gereja Katolik St. Antonius Kotabaru Yogyakarta pada 3 Desember 1975 oleh Yustinus Kardinal Darmojuwono, Uskup Agung Semarang waktu itu. Sebagai imam muda, Rm. Sunarka mendapat tugas perdana di Paroki Weleri Kendal. Perutusan ini dijalaninya tidak lama. Dua tahun kemudian, ia ditugaskan sebagai Sekretaris (1978-1984) sekaligus Ekonom (1978-1986) Keuskupan Agung Semarang.

Romo Narka kemudian mengemban tugas sebagai Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan sekaligus mengajar sebagai dosen Fakultas Teologi Wedabhakti Yogyakarta (1986-1990). Selanjutnya, ia dipercaya menjadi Ekonom Serikat Jesus Provinsi Indonesia (1990-1997) dan kemudian Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sosial (LPPS) KWI (1997-2000). Pada 12 Mei 2000, Mgr. Renzo Fratini, Nuntius Apostolik untuk Indonesia waktu itu, memberitahu bahwa Bapa Suci Yohanes Paulus II menunjuknya sebagai Uskup Purwokerto. Perutusan yang mengejutkan ini kemudian dihayati dan dijalaninya dengan semangat non mea sed tua voluntas. Bukan kehendakku, melainkan kehendak Tuhanlah yang terjadi.

Selama menjadi imam dan kemudian uskup, kalau sedang ada acara di Jogja Mgr. Sunarka menyempatkan diri menengok orangtua dan rumah. “Monsinyur kadang mampir ke rumah kalau sedang ada acara di Jogja. Ya walau hanya sebentar, sekitar setengah sampai satu jam. Melihat keadaan ibu, setelah itu langsung melanjutkan perjalanan. Kalau ada acara keluarga, beliau sering datang. Namun, tidak pernah menginap di rumah. Kalau acaranya sampai malam pun, beliau tetap menginap di Kolsani (Kolose Santo Ignatius, rumah komunitas Jesuit di belakang Gereja Kotabaru-red). Mungkin itu cara beliau menghidupi imamatnya. Tidak ingin merepotkan keluarga dan ingin selalu hidup bersama komunitas imamatnya,” terang Lucia Budi Santoso.

Sunarka. Nama yang tepat sekaligus mampu menyimpukan perjalanan hidup Mgr. Julianus Kema Sunarka. Dengan memilih nama ini, ia ingin menjadi terang bagi banyak orang. Kisah masa kecil dan bersama keluarga ini menjadi awal ia menjadi sinar yang menerangi banyak orang yang dijumpai dan dilayaninya di kemudian hari.


dikutip dari media sosial Rm. Ucup Van Kiyer (imam diosesan Keuskupan Purwokerto)

  

No comments